09/01/2024
REQUIESCAT IN PACE.
Dr Lo Siauw Ging
Si "Lo" dari Solo...
@ RS Kasih Ibu - Solo
Selasa 9/1/2024.
Disemayamkan di RD Thiong Ting
"Aku datang u/melayani, bukan dilayani.." Itulah semangat Dr. Lo Siaw Ging yg populer di Solo bukan hanya karena diagnosanya, tapi juga krn ia tdk pernah minta bayaran ke pasien bahkan biaya beli obat-pun terkadang dibayari oleh dr. Lo sendiri.
1.
Lo terlahir di Magelang, 16/8/1934 di keluarga pengusaha tembakau moderat (Lo Ban Tjiang & Liem Hwat Nio)
Setamat SMA di Semarang, Lo ingin kuliah kedokteran. Ayahnya berpesan: "jika ingin menjadi dokter jangan berdagang. Sebaliknya jika ingin berdagang, jgn menjadi dokter!"
Pemaknaan pesan sang ayah bagi dr. Lo:
"seorang dokter tdk boleh mengejar materi semata krn tugas dokter adl membantu org. Kalo hanya ingin cari untung, lbh baik jd pedagang. Jadi siapapun pasien yg datang, miskin/kaya, hrs dilayani dg baik. Ikhlas. Profesi dokter itu menolong org sakit bukan menjual obat!"
2.
Lo mjd dokter sejak 1963 di poliklinik Tsi Sheng Yuan milik Dr Oen Boen Ing (1903-1982). Di Orde Baru, poliklinik ini mjd RS Panti Kosala & skrg RS Dr Oen
Selain dari ayahnya, Lo b*k belajar dari Dr Oen: ”Ia tdk hanya pintar mengobati tp sederhana & jiwa sosialnya luar biasa"
3.
Selain tdk minta bayaran, Lo juga membantu pasien yg tdk mampu menebus resep, juga pasien rawat inap di tempatnya bekerja, RS Kasih Ibu. Ia akan menulis resep & meminta pasien ngambil obat ke apotek tanpa hrs bayar. Pd akhir bulan, pihak apotek yg akan menagih uang kpd dr. Lo
Alhasil, Lo hrs bayar resep antara Rp 8-10 juta per-bulan. Jika biaya rawat besar, misalnya hrs operasi, Lo turun sendiri cari donatur. Bukan sembarang donatur, sebab hanya donatur yg bersedia tdk disebutkan namanya yg akan didatangi Lo: “Beruntung, masih b*k yg percaya saya!"
"Saya tahu pasien mana yg mampu bayar & tdk. Untuk apa mrk bayar ongkos dokter & obat kalau setelah itu tdk bisa beli beras?? Kasihan kalau anak-anaknya tdk bisa makan!” kata dr. Lo, yg adl lulusan Fak. Kedokteran Univ. Airlangga & Managemen Administrasi Rumah Sakit dari UI
4.
Gaya bicaranya tegas. Kadang, ia memarahi pasien yg menganggap enteng penyakit: “Sampai skrg masih b*k yg bersikap kyk gt. Memangnya penyakit itu bisa sembuh sendiri. Kalau sakit ya hrs segera dibawa ke dokter. Jgn bikin diagnosa sendiri..” ujar anak ke 3 dari 5 bersaudara itu
5.
Saat kerusuhan Mei 1998, Lo tetap buka praktek & menerima pasien di rmhnya, Kampung Jagalan, Jebres. Org b*k yg khawatir akhirnya beramai-ramai menjaga rumah Lo. “Byk yg butuh pertolongan, termasuk korban kerusuhan, masak saya tolak. Klo smua dokter tutup siapa yg nolong mrk?”
6.
Meski usianya sdh 89 tahun & bertongkat, Lo tdk b*k mengurangi waktunya u/melayani pasien dari pagi - mlm
“Selama saya kuat, saya blm mau pensiun. Mjd dokter itu baru pensiun kalau sudah tdk bisa apa-apa. Kepuasan bagi saya bisa membantu org & itu tdk bisa dibayar dg uang.."
7.
Puluhan tahun mjd dokter, bahkan direktur rumah sakit, hidup Lo tetap sederhana. Bersama Maria Gandi (istrinya), ia tinggal di rumah tua yg relatif tidak berubah sejak awal dibangun, kecuali hanya diperbarui catnya. Bukan rumah megah & bertingkat seperti umumnya rumah dokter
“Rumah ini sudah cukup besar u/ kami berdua. Kalau ada penghasilan yg lebih, biarlah u/mrk yg lebih membutuhkan. Kebutuhan kami hanya makan. Bisa sehat sampai usia skrg ini saja, saya sudah sangat bersyukur. Semakin panjang usia, semakin b*k kesempatan u/membantu orang lain"
Mnrt Lo, istrinya memiliki peran besar terhadap apa yg ia buat. Tanpa perempuan itu, kata Lo, ia tdk akan bisa melakukan semuanya. “Maria itu perempuan luar biasa. Saya beruntung mjd suaminya,” ujar Lo ttg Maria Gan May Kwee (Maria Gandi), perempuan yg ia nikahi di thn. 1968
8.
Th. 2020, dr. Lo mendapat penghargaan MURI
”Sbnrnya b*k dokter bisa melakukannya. U/semua apalagi dokter muda, gimanapun disini jika mjd dokter tdk akan kelaparan. Tdk ada salahnya sedikit berbuat sosial u/org lain”
9.
Di usia tuanya ini, dia jatuh sakit lagi dan dirawat di ruang WIRATA - Rumah Sakit Kasih Ibu di Solo.
Beberapa tahun lalu juga dirawat krn gejala stroke. Konon, sampai sebelum jatuh sakit, dokter Lo masih praktik melayani banyak pasien.
10.
Akhirnya hari ini, Selasa 9/1/2024, Dr Lo Siauw meninggal di RS Kasih Ibu - Solo. Tuhan yang memberi - Tuhan yang mengambil - Terpujilah nama Tuhan.
GBU. God bless u, dok!
Ada malaikat dari Solo..
Jadilah berkat, seperti si dr. Lo..
Tuhan memberkati & Bunda merestui.
Dari WAG "No Grey"