Poelang Kampoeng Semarang

Directions Website Contact the museum

Poelang Kampoeng Semarang Kawasan Poelang Kampoeng Semarang, terletak di pusat kota Semarang. Diantara dua landmark kota Semarang. Simpang Lima dan Tugu Muda.

Konsep "Eat, Art, Creativity and Cultural Community". Membuka kolaborasi dengan komunitas kreatif kota Semarang.

Macaroni Schootel , Semur Bola Ayam.Untuk sarapan teman-teman yang akan berkegiatan.
09/11/2024

Macaroni Schootel , Semur Bola Ayam.
Untuk sarapan teman-teman yang akan berkegiatan.

Fire Chicken Wings(Ayam Menyala)7 sayap ayam potong 3 bagian10 sdm tepung bumbu10 sdm tepung terigu1 siung bawang putihg...
09/11/2024

Fire Chicken Wings
(Ayam Menyala)

7 sayap ayam potong 3 bagian
10 sdm tepung bumbu
10 sdm tepung terigu
1 siung bawang putih
garam
air dingin
minyak goreng

Saus

t sdm saus hot lava
3 sdm saus pedas
3 sdm saus barbeque
1 sdm cabe bubuk

wijen sangrai (optional)

Ayam lumuri bawang dan garam. Marinasi 1 jam.
Campur tepung bumbu dan terigu.
Gulingkan ayam di tepung, air, tepung . Ulang sampai cukup tebal.
Goreng dengan api sedang di minyak panas.

Campur semua persausan.
Gulingkan ayam di saus (saus tidak usah dimasak).

Taburi wijen sangrai.

REQUIESCAT IN PACE.Dr Lo Siauw Ging Si "Lo" dari Solo...@ RS Kasih Ibu - SoloSelasa 9/1/2024.Disemayamkan di RD Thiong T...
09/01/2024

REQUIESCAT IN PACE.
Dr Lo Siauw Ging
Si "Lo" dari Solo...
@ RS Kasih Ibu - Solo
Selasa 9/1/2024.
Disemayamkan di RD Thiong Ting

"Aku datang u/melayani, bukan dilayani.." Itulah semangat Dr. Lo Siaw Ging yg populer di Solo bukan hanya karena diagnosanya, tapi juga krn ia tdk pernah minta bayaran ke pasien bahkan biaya beli obat-pun terkadang dibayari oleh dr. Lo sendiri.

1.
Lo terlahir di Magelang, 16/8/1934 di keluarga pengusaha tembakau moderat (Lo Ban Tjiang & Liem Hwat Nio)

Setamat SMA di Semarang, Lo ingin kuliah kedokteran. Ayahnya berpesan: "jika ingin menjadi dokter jangan berdagang. Sebaliknya jika ingin berdagang, jgn menjadi dokter!"

Pemaknaan pesan sang ayah bagi dr. Lo:
"seorang dokter tdk boleh mengejar materi semata krn tugas dokter adl membantu org. Kalo hanya ingin cari untung, lbh baik jd pedagang. Jadi siapapun pasien yg datang, miskin/kaya, hrs dilayani dg baik. Ikhlas. Profesi dokter itu menolong org sakit bukan menjual obat!"

2.
Lo mjd dokter sejak 1963 di poliklinik Tsi Sheng Yuan milik Dr Oen Boen Ing (1903-1982). Di Orde Baru, poliklinik ini mjd RS Panti Kosala & skrg RS Dr Oen

Selain dari ayahnya, Lo b*k belajar dari Dr Oen: ”Ia tdk hanya pintar mengobati tp sederhana & jiwa sosialnya luar biasa"

3.
Selain tdk minta bayaran, Lo juga membantu pasien yg tdk mampu menebus resep, juga pasien rawat inap di tempatnya bekerja, RS Kasih Ibu. Ia akan menulis resep & meminta pasien ngambil obat ke apotek tanpa hrs bayar. Pd akhir bulan, pihak apotek yg akan menagih uang kpd dr. Lo

Alhasil, Lo hrs bayar resep antara Rp 8-10 juta per-bulan. Jika biaya rawat besar, misalnya hrs operasi, Lo turun sendiri cari donatur. Bukan sembarang donatur, sebab hanya donatur yg bersedia tdk disebutkan namanya yg akan didatangi Lo: “Beruntung, masih b*k yg percaya saya!"

"Saya tahu pasien mana yg mampu bayar & tdk. Untuk apa mrk bayar ongkos dokter & obat kalau setelah itu tdk bisa beli beras?? Kasihan kalau anak-anaknya tdk bisa makan!” kata dr. Lo, yg adl lulusan Fak. Kedokteran Univ. Airlangga & Managemen Administrasi Rumah Sakit dari UI

4.
Gaya bicaranya tegas. Kadang, ia memarahi pasien yg menganggap enteng penyakit: “Sampai skrg masih b*k yg bersikap kyk gt. Memangnya penyakit itu bisa sembuh sendiri. Kalau sakit ya hrs segera dibawa ke dokter. Jgn bikin diagnosa sendiri..” ujar anak ke 3 dari 5 bersaudara itu

5.
Saat kerusuhan Mei 1998, Lo tetap buka praktek & menerima pasien di rmhnya, Kampung Jagalan, Jebres. Org b*k yg khawatir akhirnya beramai-ramai menjaga rumah Lo. “Byk yg butuh pertolongan, termasuk korban kerusuhan, masak saya tolak. Klo smua dokter tutup siapa yg nolong mrk?”

6.
Meski usianya sdh 89 tahun & bertongkat, Lo tdk b*k mengurangi waktunya u/melayani pasien dari pagi - mlm

“Selama saya kuat, saya blm mau pensiun. Mjd dokter itu baru pensiun kalau sudah tdk bisa apa-apa. Kepuasan bagi saya bisa membantu org & itu tdk bisa dibayar dg uang.."

7.
Puluhan tahun mjd dokter, bahkan direktur rumah sakit, hidup Lo tetap sederhana. Bersama Maria Gandi (istrinya), ia tinggal di rumah tua yg relatif tidak berubah sejak awal dibangun, kecuali hanya diperbarui catnya. Bukan rumah megah & bertingkat seperti umumnya rumah dokter

“Rumah ini sudah cukup besar u/ kami berdua. Kalau ada penghasilan yg lebih, biarlah u/mrk yg lebih membutuhkan. Kebutuhan kami hanya makan. Bisa sehat sampai usia skrg ini saja, saya sudah sangat bersyukur. Semakin panjang usia, semakin b*k kesempatan u/membantu orang lain"

Mnrt Lo, istrinya memiliki peran besar terhadap apa yg ia buat. Tanpa perempuan itu, kata Lo, ia tdk akan bisa melakukan semuanya. “Maria itu perempuan luar biasa. Saya beruntung mjd suaminya,” ujar Lo ttg Maria Gan May Kwee (Maria Gandi), perempuan yg ia nikahi di thn. 1968

8.
Th. 2020, dr. Lo mendapat penghargaan MURI

”Sbnrnya b*k dokter bisa melakukannya. U/semua apalagi dokter muda, gimanapun disini jika mjd dokter tdk akan kelaparan. Tdk ada salahnya sedikit berbuat sosial u/org lain”

9.
Di usia tuanya ini, dia jatuh sakit lagi dan dirawat di ruang WIRATA - Rumah Sakit Kasih Ibu di Solo.
Beberapa tahun lalu juga dirawat krn gejala stroke. Konon, sampai sebelum jatuh sakit, dokter Lo masih praktik melayani banyak pasien.

10.
Akhirnya hari ini, Selasa 9/1/2024, Dr Lo Siauw meninggal di RS Kasih Ibu - Solo. Tuhan yang memberi - Tuhan yang mengambil - Terpujilah nama Tuhan.
GBU. God bless u, dok!

Ada malaikat dari Solo..
Jadilah berkat, seperti si dr. Lo..

Tuhan memberkati & Bunda merestui.

Dari WAG "No Grey"

22/12/2023

HARI (PERJUANGAN) IBU

Hari Ibu bukanlah momen menyanjung peran domestik perempuan.

HARI Ibu yang kerap diperingati pada 22 Desember setiap tahunnya agak salah sambung. Nyasar dari tujuan awalnya. Campur aduk dengan momen Mother’s Day di Amerika Serikat yang selalu diperingati pada 9 Mei setiap tahunnya. Mother’s Day di Amerika memang berbeda dengan hari Ibu di Indonesia. Awal mula peristiwanya pun berbeda. Di Amerika Mother’s Day selalu diperingati 9 Mei yang tak lain adalah tanggal meninggalnya Ann Jarvis, seorang ibu yang pada 1868 menginisiasi gerakan untuk menyatukan kembali keluarga-keluarga yang tercerai berai akibat perang saudara (Civil War) di Amerika. Setalah ia wafat, usahanya diteruskan oleh Anna Jarvis, anak perempuannya yang kemudian menetapkan tanggal kematian ibunya sebagai Mother’s Day di Amerika.

Sementara itu di Indonesia, peringatan hari Ibu pada 22 Desember didasarkan pada penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia pertama, 22–25 Desember 1928 di Yogyakarta. Penetapan tanggal peringatan hari Ibu itu dilakukan pada Kongres Perempuan Indonesia ketiga pada 23–28 Juli 1938 di Bandung. Kongres Perempuan Indonesia pertama dilakukan dalam suasana zaman kolonial yang mencengkeram kebebasan orang Indonesia untuk berekspresi dan menyatakan pendapat. Kongres itu p**a tak bisa dilepaskan dari semangat kebangsaan yang baru saja digelorakan pada Kongres Pemuda kedua, 28 Oktober 1928 di Batavia.

Faktor pendorong penyelenggaraan Kongres Perempuan Indonesia tak lain adalah kondisi kehidupan perempuan di Indonesia yang masih dikungkung budaya patriarkis yang berdiri di atas nilai-nilai feodal. Menurut sejarawan Saskia Eleonora Wieringa ada sejumlah organisasi perempuan yang terpenting ikut serta dalam kongres perempuan tersebut, antara lain Wanita Oetomo, Aisyah, Poetri Indonesia, Wanita Katolik, Wanito Moeljo, dan bagian-bagian perempuan di dalam Sarekat Islam, Jong Islamieten Bond dan Wanita Taman Siswa. Tiga tokoh perempuan penggagas pertemuan itu adalah Nyi. Hadjar Dewantara dari Wanita Taman Siswa, Ny. Soekonto dari Wanita Oetomo dan Sujatin Kartowijono dari Poetri Indonesia.

Sujatin, salah seorang inisiator kongres tersebut menuturkan pengalamannya, “Perjuangan kemerdekaan dan perbaikan hak serta nasib wanita menjadi titik utama dalam hidupku sebagai orang muda... Di bulan Oktober 1928, tepatnya tanggal 28, diadakan Sumpah Pemuda... Pada saat itu p**alah timbul sebuah hasrat di antara kami kaum wanita muda, mengadakan sebuah pertemuan antar-wanita se-Indonesia demi persatuan nasional,” kata Sujatin kepada Hanna Rambe, penulis otobiografinya, Mencari Makna Hidupku.

Ada banyak masalah yang dibicarakan dalam kongres perempuan pertama itu, mulai dari pendidikan kaum perempuan, nasib anak yatim piatu dan janda, perkawinan anak-anak, reformasi undang-undang perkawinan Islam, pentingnya meningkatkan harga diri kaum perempuan sampai dengan kejahatan kawin paksa yang masih marak terjadi saat itu. Beberapa tokoh perempuan menyampaikan pandangannya masing-masing terhadap persoalan yang dihadapi kaum perempuan di Indonesia, bahkan muncul gerakan anti-permaduan (baca: anti-poligami). Kongres Perempuan Indonesia pertama itu menghasilkan sejumlah resolusi dan membentuk Perikatan Perkump**an Perempoean Indonesia.

Kehidupan kaum perempuan di Hindia Belanda pada era tahun 1920-an dirundung oleh sejumlah masalah yang cukup pelik. Tak banyak perempuan yang bisa menempuh pendidikan; kebanyakan dari mereka sudah dikawinkan selang beberapa saat setelah mengalami menstruasi pertama; tak punya kedudukan kuat untuk menggugat atas perlakuan sepihak dari kaum pria dalam soal kawin-cerai dan tak adanya aturan yang berpihak kepada mereka.

Dalam surat-suratnya kepada Ny. Abendanon bisa diketahui bagaimana RA. Kartini menggugat praktik permaduan yang terjadi di kalangan priayi. Ironisnya, Kartini yang menggugat praktik permaduan dan perjodohan paksa itu pada akhirnya harus takluk kepada kehendak ayahnya yang menjodohkannya dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat, bupati Rembang yang sudah beristri tiga. Surat-surat Kartini merupakan gambaran alam pikiran dan perasaannya yang diserap dari pengalaman dan kesaksiannya sebagai seorang perempuan Jawa-priayi yang hidup dalam kungkungan budaya patriarkis. Semangat Kartini itulah yang terus dinyalakan oleh kaum perempuan yang hidup sesudahnya, termasuk oleh mereka yang menyelenggarakan Kongres Perempuan Indonesia pertama, 22 Desember 1928.

Gerakan perempuan Indonesia pada kolonial sempat hampir pecah karena adanya perbedaan pandangan mengenai permaduan. Itu terjadi pada Kongres Perempuan Indonesia kedua, 20–24 Juli 1935 di Batavia, ketika Ratna Sari, dari Persatuan Muslim Indonesia (Permi) Sumatera Barat menyampaikan pidato yang bernada mendukung poligami, sesuai dengan syariat Islam. Kontan sikap Ratna itu menuai kontroversi. Suwarni Pringgodigdo dari perkump**an Istri Sedar menentang pendapat Ratna. Suwarni bahkan memboikot jalannya sidang dengan menyatakan dirinya dan organisasi yang dipimpinnya keluar dari kongres. Namun hal itu akhirnya dapat dicegah setelah Maria Ulfah, tokoh perempuan utama lainnya, mengajukan usul agar pembahasan pendapat Ratna tidak diteruskan di dalam kongres.

Dinamika gerakan perempuan makin menguat seiring makin bersatunya orientasi mereka terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi perempuan. Perempuan tak lagi berdiam di dapur atau pasrah menerima nasib yang terjadi pada diri mereka. Sejumlah advokasi terhadap perempuan korban pertikaian rumah tangga dilakukan oleh organisasi-organisasi perempuan anggota kongres perempuan. Perempuan Indonesia, sejak 22 Desember 1928 memasuki ranah perjuangan politik praktis, sebuah wilayah yang sebelumnya tabu mereka masuki karena nilai-nilai tertentu di dalam masyarakat yang tak memungkinkan mereka bergerak aktif memperjuangkan hak-haknya.

Peringatan hari Ibu 22 Desember kemudian ditetapkan perayaannya secara nasional melalui Dekrit Presiden Sukarno No. 316 tahun 1959. Banyak yang mengatakan bahwa penetapan tersebut merupakan upaya dari Sukarno untuk memperbaiki citranya di hadapan gerakan perempuan karena dia telah memadu Fatmawati dengan menikahi Hartini. Namun lebih dari itu, hari Ibu di Indonesia merupakan tonggak sejarah perjuangan kaum perempuan untuk merebut posisi yang lebih adil di dalam masyarakat. Maka, peringatan hari Ibu yang penuh haru-biru dengan segala puja-puji peran domestik ibu di dalam rumah sejatinya justru mendistorsi makna hari Ibu itu sendiri.

Selamat hari ibu para perempuan pemberani!

Imajinasiku sudah banyak sekali berkurang.Pernah suatu waktu punya banyak sekali imaji liar tentang fashion.Daun kering,...
15/12/2023

Imajinasiku sudah banyak sekali berkurang.

Pernah suatu waktu punya banyak sekali imaji liar tentang fashion.

Daun kering, tikar pandan, wastra, dll.

Semua berhenti di desain yang sampai sekarang masih tersimpan.

Berhenti karena tidak bisa mengaplikasikan, tidak ada penjahit yang memahami ide-ide itu. Dan akhirnya harus memilih menjadi bankers.

Sekarang ketika kesempatan terbuka, harus memeras otak untuk mendapatkan ide yang liar. Karena ide-ide mainstream sudah banyak yang membuat. Kreativitas berkembang luar biasa, tetapi dalam batasan yang sangat biasa....

Satu karya muncul, pengekor dibelakangnya seperti bulu merak yang dikembangkan. Jauh lebih bagus, tetapi tidak original.

Harus diakui...

Semoga lebih banyak anak muda kreatif kedepannya.

Semoga semakin banyak orang tua yang bisa mengawal adab dan etikanya, tanpa kenyinyiran berlebihan.

Banyak makan kluwak, penambah kualitas darah...

Menurutku...

Embuh menurutmu...

Maturnuwun mba Indang untuk kiriman kluwak dan sambel pecelnya..

Jadi deh masak

Rawon
Brongkos
Pecak
Sambel Kluwak

Ponorogo memang oye...




Bahagianya kami, bersama Kuthubaru Itoe Kita ada diantara mereka.Dari sembilan menuju sepuluh,lintasan waktu yang melesa...
28/08/2023

Bahagianya kami, bersama Kuthubaru Itoe Kita ada diantara mereka.

Dari sembilan menuju sepuluh,
lintasan waktu yang melesat cepat
mewujud rupa aksara hingga liuk tubuh
aneka budaya berjabat erat.

Tiga senja Festival Payung Indonesia
memanjakan penikmat seni
pada tajuk Sepayung Bumi:

8-10 September 2023
Titik Nol Kota Solo
Balai Kota Solo & Pasar Gede.

100 pertunjukan seni dan Pameran , dari Aceh sampai Papua. merayakan persahabatan indonesia , thailand, jepang, india dan Ekuador.

Tandai setiap mata acaranya,
abadikan keindahannya.

Persimpangan jalan lagi....
28/07/2023

Persimpangan jalan lagi....

Ndalem Djojokoesoeman adalah sebuah tempat tersembunyi yang bqhkan penduduk Solo pun banyak yang belum mengetahui kebera...
24/07/2023

Ndalem Djojokoesoeman adalah sebuah tempat tersembunyi yang bqhkan penduduk Solo pun banyak yang belum mengetahui keberadaannya.

Sempat berpindah tangan beberapa kali hingga akhirnya sejak hampir 6 tahun terakhir menjadi kelola Pemerintah Kota Surakarta.

Sepanjang pengamatan saya ketika beberapa kali mengunjungi pameran Patjar Merah, ndalem ini dibagi menjadi beberapa lapis. Seperti umumnya rumah khas Jawa.

Pada rumah khas Jawa, bagian bagian nya memang dibuat sesuai kebutuhan. Pendapa, Gandhok, Senthong itu beberapa istlah yang saya kenal.

Berharap suatu saat berkesampatan mengulik tempat-tempat herritage sambil membayangkan bagaimana tempat itu bisa ada. Bagaimana suasana ketika jaman dahulu. Dan bagaimana kita yang hidup dijaman ini menyikapinya.

Seandainya ada sahabat sehati ...

Address

Surakarta
57143

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Poelang Kampoeng Semarang posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Museum

Send a message to Poelang Kampoeng Semarang:

Shortcuts

Share

Category