Indonesia Tempoe Doeloe Pusat Dokumenter Dan Nostalgia

Indonesia Tempoe Doeloe Pusat Dokumenter Dan Nostalgia Tempo Doeloe Dokumenter
(3)

Noesantara Tempo Doeloe • 1293–1309 Raden Wijaya (pertama)• 1328–1350 Tribhuwana Wijayatunggadewi• 1350–1389 Hayam Wuruk...
08/07/2026

Noesantara Tempo Doeloe
• 1293–1309 Raden Wijaya (pertama)
• 1328–1350 Tribhuwana Wijayatunggadewi
• 1350–1389 Hayam Wuruk
• 1389–1429 Wikramawardhana
• 1474–1527 Girindrawardhana (terakhir)

Benarkah beliau dimasa antara Wikramaeardhana dan Grindrawardhana?

Noesantara Tempo Doeloe Habitat Terakhir Badak JawaDari lima spesies yang masih tersisa, badak jawa mengalami penurunan ...
08/07/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Habitat Terakhir Badak Jawa

Dari lima spesies yang masih tersisa, badak jawa mengalami penurunan pop**asi yang sangat dramatis. Badak jawa yang kini hanya terdapat di Taman Nasional Ujung Kulon, Banten, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN), pop**asinya berkisar 46-66 ekor.

Pemburu badak, JC Hazewinkel pada tahun 1928 berpose di atas buruannya, badak jawa di Sumatera bagian Selatan. Foto ini membuktikan badak jawa yang kini habitatnya terpojok di Taman Nasional Ujung Kulon di Banten, pernah hidup di wilayah Sumatera.

Dalam candi juga terdapat relief badak dalam bahasa jawa kuno badak disebud WARAK

Noesantara Tempo Doeloe WARAK adalah penyebutan hewan bercula tunggal dalam bahasa jawa kuno Yang di artikan BADAK.Relie...
08/07/2026

Noesantara Tempo Doeloe
WARAK adalah penyebutan hewan bercula tunggal dalam bahasa jawa kuno Yang di artikan BADAK.

Relief BADAK Abad 10 Masehi..

Noesantara Tempo Doeloe Potret lawas 1915 Meriam BantenMeriam Ki Amuk adalah sebuah Meriam kuno milik Kesultanan Banten ...
08/07/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Potret lawas 1915 Meriam Banten

Meriam Ki Amuk adalah sebuah Meriam kuno milik Kesultanan Banten yang saat ini berada di depan Masjid Agung Banten. Meriam Ki Amuk konon dulu dipergunakan untuk menjaga Pelabuhan Karanghantu yang berada di Teluk Banten.

meriam ini dibuat di Jawa Tengah abad 16 sekitar tahun 1527 M, yang kemudian dihadiahkan kepada Sultan Hasanuddin dari Kesultanan Banten oleh Sultan Trenggono yang pada awalnya bernama Ki Jimat.

Meriam Ki Amuk terbuat dari Perunggu dengan berat 7 ton, panjang 3 meter diameter luar terbesar 0,70 m, diameter dalam mulut 0,34 m. Ia menembakkan peluru meriam seberat 180 pon (81,6 kg)

Lambang Surya Majapahit dapat dilihat di mulutnya. Ada dua prasasti berhuruf Arab di meriam ini. Yang pertama berbunyi "Aqibah al-Khairi Salamah al-Imani" yang berarti "Buah dari segala kebaikan adalah kesempurnaan iman". Prasasti kedua berbunyi "La fata illa Ali la saifa illa Zu al-faqar, isbir ala ahwaliha la mauta" yang berarti "Tiada pemuda kecuali Ali, tiada pedang selain Zulfiqar, hendaklah engkau bertakwa sepanjang masa kecuali mati".

Noesantara Tempo Doeloe Potret lawas1912  prasasti-prasasti (V,VII en IV)yang dikeluarkan Adityawarman Pagaruyung Sumate...
07/07/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Potret lawas1912 prasasti-prasasti (V,VII en IV)yang dikeluarkan Adityawarman Pagaruyung Sumatera Barat.

●Kump**an prasasti tersebut ditulis dalam huruf Jawa Kuna dengan bahasa Sanskerta dan sedikit bahasa Melayu Kuno. Prasasti-prasasti yang ada di kompleks ini terdiri dari 9 buah prasasti. Prasasti Pagaruyung I terletak paling ujung di sebelah Selatan dalam deretan prasasti-prasasti Pagaruyung. Selanjutnya berturut-turut ke arah Utara adalah Prasasti Pagaruyung II, III, IV,V, VI, VII, dan VIII . Sementara prasasti yang ke IX berupa fragmen batu andesit warna abu-abu sekarang disimpan di Ruang Koleksi Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Batusangkar.

●Prasati Pagaruyung I
Prasasti ini digoreskan pada sebuah batu pasir kwarsa warna coklat kekuningan (batuan Sedimen) berbentuk empat persegi berukuran tinggi 260 cm, lebar 133 cm, dan tebal 38 cm. Prasasti ini ditulis dalam bahasa Sansekrta bercampur dengan bahasa Melayu Kuno. Berangka tahun 1278 Ş (1356 M).

●Prasasti Pagaruyung II
Prasasti ini digoreskan pada sebuah batu pasir kwarsa warna coklat kekuningan. Batu artificial ini berbentuk persegi dengan lengkung setengah lingkaran pada bagian atas. Prasasti ini berukuran tinggi 250 cm, lebar 116 cm, dan tebal 18 cm. bentuk batu tersebut mengingatkan seperti bentuk sandaran pada arca. Berangka tahun 1295 Ş (1373 M).

●Prasasti Pagaruyung III
Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu andesit warna abu-abu kecoklatan berbentuk memanjang non-artifisial. Tulisan berada pada sisi yang menonjol keluar pada bagian atas. Batu tersebut berukuran panajng 190 cm, lebar 66 cm, dan tebal 15 cm. prasasti ini berhuruf jawa Kuna dan berbahasa sansekrta, dengan angka tahun 1269 Ş (1347 M).

●Prasasti Pagaruyung IV
Prasasti ini dipahatkan pada batu andesit hitam berbentuk persegi empat yang keadaan tulisannya sudah sangat aus dan pahatannya sudah hilang, sehingga hanya tinggal sisa pahatan yang berupa bayangan putih saja. Prasasti ini berukuran panjang (tinggi) 100cm, lebar 66 cm, dan tebal 15 cm.

●Prasasti Pagaruyung V
Berupa fragmen batu andesit yang terdiri dari 5 baris tulisan. Dilihat dari bentuk batunya, khususnya pada sisi atas, tampak adanya bekas pecahan, demikian p**a pada sisi bawahnya. Prasasti ini ditulis dengan huruf dan bahasa Jawa Kuna.

●Prasasti Pagaruyung VI
Digoreskan pada batu andesit warna coklat kekuningan non-artifisial. Batu monolit tersebut berbentuk persegi panjang tak beraturan dengan tulisan berada pada bagian atas. Tulisan prasasti ini baik bentuk maupun jenis tuluisannya relative kasar, kecil, dan tidak rapi. hal ini menunjukkan bahwa si penulis bukan penulis prasasti yang professional. Bidang tulisannya pun tidak diperhalus dan hanya memanfaatkan bidang yang ada sebagai media penulisan. Prasasti dengan huruf dan bahasa Jawa Kuna ini hanya terdiri dari 2 baris tulisan, sehingga tidak sebanding (proporsional) dengan bentuk dan ukuran batunya.

●Prasasti Pagaruyung VII
Prasasti ini dipahatkan pada sebuah batu andesit warna abu-abu berbentuk persegi pipih, artificial. Batu prasasti tersebut sekarang dalam keadaan patah, yaitu bagian atas, sisi kiri melengkung sampai ke tengah bidang tulisan, sehingga ada beberapa huruf yang hilang. Prasasti ini berukuran tinggi 82 cm, lebar 50 cm, dan tebal 10 cm.

●Prasasti Pagaruyung VIII
Prasasti ini dipahatkan pada sebuah artefak lesung batu berbentuk empat persegi dengan sebuah lubang ditengahnya. Lesung batu tersebut mempunyai ukuran panjang 52 cm, lebar 49 cm, dan tebal (tinggi) 30 cm. prasasti tersebut digoreskan pada ketiga sisinya, terletak di bagian atas. Awal tulisan dimulai pada sisi yang berbaris dua lalu dilanjutkan pada kedua sisi lainnya dan diakhiri sisi pertama. Artefak lesung tersebut terbuat dari bahan batu lapilin coklat keputihan. Berangka tahun 12 (mei-Juni) 1291 Ş (1369 M).http://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbsumbar/kompleks-prasasti-adityawarman/

Prasasti-prasasti tersebut sekarang diletakkan di dalam cungkup perlindungan dan disusun secara berurutan.

Noesantara Tempo Doeloe Potret lawas 1924 Relief candi Tjeto, ini Celeng apa Banteng? Yang adakan Babi Rusa.
07/07/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Potret lawas 1924 Relief candi Tjeto, ini Celeng apa Banteng? Yang adakan Babi Rusa.

07/07/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Tutup kepala Bahan Emas (kuluk) Penyebutan (Kupluk)Yang Dipakai Sultan Demak Raden Fattah,ini berasal dari rumah sultan Demak.

Dari sinilah Budaya Kupluk berasal Orang jawa menyebut Peci/Kopyah/ =Kuluk(Kupluk) Ketu.

Tersimpan Di Museum Tropis Amsterdam belanda

Noesantara Tempo Doeloe Mantingan Tjepara.Potret lawas 1920  pintu paduraksa komplek makam Sultan Hadlirin Bin Sultan Mu...
06/07/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Mantingan Tjepara.
Potret lawas 1920 pintu paduraksa komplek makam Sultan Hadlirin Bin Sultan Mughayat Syah dan makam lainya.

Sultan Hadliri mempunyai Istri yang berasal dari Kesultanan Demak yaitu Putri Sultan Trenggono yang bernama Retna Kencana yang mempunyai gelar Ratu Kalinyamat,yang dikenal memimpin pertempuran selat Malaka.

Noesantara Tempo Doeloe Potret lawas 1925 sisa-sisa kejayaan Hindu di bumi Sumatra.Selepas ditemukan dan digali,tertimbu...
06/07/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Potret lawas 1925 sisa-sisa kejayaan Hindu di bumi Sumatra.

Selepas ditemukan dan digali,tertimbun tanah kedalaman satu Meter, Dan ratusan tahun ditinggalkan ini bukti artefak kerajaan Dharmasraya Tra Singasari darah majahpahit (sumber prasasti Candi Jago).

Sebagian menganggap Ini adalah sosok perwujudan Raja Adityawarman Arca setinggi 4,41 meter dengan berat kurang lebih 4 ton ini ditemukan diatas bukit persawahan pada tahun 1935 di tepian Sungai Batanghari.

Raja Adityawarman adalah penganut Ta**ra Bhairawa,Nama Dharmasraya muncul di dalam prasasti Dharmasraya Malayapura tahun 1286 Masehi.

Yang ditulis pada sebuah lapik arca yang dikirmkan oleh Raja Singasari untuk Raja Melayu pada peristiwa Ekspedisi Pamalayu.

Manifestasi ekspedi Pamalayu adalah perjanjian antara kerajaan Singsari dengan kerajaan Melayu Dharmasraya untuk menghambat serangan Kubilah Khan.

Bentuk perdamaian tersebut 2 gadis Sumatera Barat (Minangkabau) yaitu Dara Petak dan Darah Jiga di bawa ke kerajaan Singasari.

Darah jingga kawin dengan keluarga kerajaan Singasari dan melahirkan Adityawarman. Isi yang terkandung di dalam prasasti menyebutkan bahwa pada tahun 1208 S (1286 M), bulan badrawada tanggal 1 paro terang, Arca Amoghapasa dibawa dari Bhumijawa dan ditempatkan di Dharmmasraya. Arca ini merupakan persembahan dari Sri Maharajadiraja Sri Krtanegara untuk Sri Maharaja Srimat Tribhuwanaraja Mauli-warmmadewa dari Melayu Dharmmasraya.

Noesantara Tempo Doeloe Sisa-sisa kejayaan Budha di sumatra Biaro Bahal II, onderafd. Padang Lawas, Res. Tapanoeli
06/07/2026

Noesantara Tempo Doeloe
Sisa-sisa kejayaan Budha di sumatra Biaro Bahal II, onderafd. Padang Lawas, Res. Tapanoeli

Address

Jalan Soekarno Hatta
Bantenan

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Indonesia Tempoe Doeloe Pusat Dokumenter Dan Nostalgia posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Shortcuts

Share

Category