05/06/2026
Noesantara Tempo Doeloe
●Bahasa melayu mutlak bersumber dari Sumatra yang menyebar keseluru Nusantara menjadi Baku Bahasa pemersatu bahasa Indonesia.yang bersumber primer dari tinggalan Prasasti.
●Koleksi museum Inggris
Surat Sultan Cakradiningrat II dari Madura, juga dikenal sebagai Panembahan Cakraningrat VIII, kepada Raja William I, tertanggal 19 Februari 1835.
●Surat tersebut menyertai sumbangan sebuah keris, yang kini menjadi koleksi Rijksmuseum (NG-NM-7115 ) . Surat itu dilengkapi dengan segel lilin dan dihias dengan daun emas atau cat emas. Di bagian atas iluminasi dengan lambang Belanda diapit dua kali motif matahari dengan angin bertiup di dalamnya. Dikelilingi oleh bingkai dengan motif bunga.
●Teks bahasa melayu dikaligrafi, dengan kata-kata penting, seperti kata 'raja' (raja) dalam huruf besar. Di bagian atas surat itu ada teks Arab dengan doa kepada Tuhan, seperti "Dia yang mengakhiri masalah". Dua tanggal ditambahkan di bagian paling bawah, pertama menurut zaman Islam (20 Syawal 1250) dan di bawahnya menurut zaman Gregorian (19 Februari 1835). Surat itu dilengkapi dengan amplop dengan segel lilin dan penutup beludru.
●Terjemahan surat oleh J.D.G. Schaap, komisaris utama untuk urusan dalam negeri di Sekretariat Jenderal, tertanggal 1835, membaca (aslinya ada di Noord-Hollands Archief):
"Surat kebaikan ini, yang juga merupakan hadiah khusus, muncul dari pikiran yang tulus dan murni, dan disertai dengan banyak salam dan penghormatan yang tidak akan pernah berhenti, selama matahari dan bulan menyelesaikan perjalanannya, dan selanjutnya dihiasi dengan pujian yang sempurna, datang dari saya, sultan Madura, Tjakra Adi Ningrat .........
Dengan ini saya memberanikan diri untuk mempersembahkan kepada Yang Mulia sebuah barang yang tidak pantas, yaitu sebuah keris dengan aksesoris, sarungnya bertatahkan emas dan berhias berlian, dan keris mana yang telah dibuat di keraton saya. Meskipun ini hanyalah hal kecil, namun saya berharap Yang Mulia akan menerima dengan senang hati Raja yang termasyhur dan paling mulia, sama seperti yang dibuat di negara saya.
Setelah membuktikan persahabatan dan ketulusan hati, suami saya Ratoe Aijoenan, serta Putra saya Kolonel Pangeran Adipatti, Setjo Adi Ningrat, serta anak-anak saya yang lain, bersama saya memberikan banyak salam dan pernyataan hormat kami kepada Yang Mulia Yang Maha Tenang dan Raja Yang Paling Mulia, dan kepada Permaisuri Yang Paling Sama, Yang Mulia Ratu, dan kepada semua pangeran dan putri.
Ditulis di Madura pada hari Kamis, tanggal 20 bulan Sawwal tahun 1762 [sic] menjadi tanggal 19 Februari 1835."
Copy Right picture: Bambang Sujarwanto