04/07/2026
Bagi mata modern yang telanjur rabun oleh narasi kolonial, masa lalu Nusantara sering kali dicitrakan sebagai bentang alam liar yang dihuni masyarakat tak berdaya di hadapan amuk alam. Padahal, jauh sebelum mesin-mesin pengeruk barat menginjakkan kaki di tanah ini,
Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Kediri, Singasasri atau Majapahit, telah merajut peradaban hidrolik yang luar biasa genius lewat pembangunan kanal-kanal kota yang presisi serta bendungan raksasa seperti Waduk Samudra.
Menganggap leluhur kita tidak becus mengelola air adalah bentuk kebebalan sejarah yang nyata; benteng-benteng air purba itu dirancang bukan sekadar untuk menampung genangan, melainkan sebagai sistem mitigasi banjir dan tata ruang ekologis yang rumit demi menghidupkan jutaan jiwa di bawahnya.
Waduk Siman di Kediri misalnya. Luasnya 50 ribu meter persegi. Dibangun tahun 804 Masehi saat era Mataram Kuno oleh tokoh bernama Bhagawanta Bhari untuk membendung Sungai Konto yang dimanfaatkan saluran irigasi. Pembendungan sungai dan pembuatan waduk tersebut diabadikan dalam Prasasti Harinjing (bertanggal 25 Maret 804 Masehi) yang kini diperingati sebagai hari jadi Kabupaten Kediri.
Melalui pahatan kanal dan bendungan megah, para ilmuwan pengatur air Nusantara telah membuktikan, mereka bukan hamba yang tunduk pada ganasnya alam, melainkan para arsitek lanskap ulung yang mampu menundukkan aliran sungai menjadi denyut nadi kemakmuran sebuah imperium besar.