04/08/2026
MENGUAK JEJAK EMAS PUTIH SAHAM PG TJEWENG-LESTARI 1884 DARI SURABAYA
Tiga lembar dokumen kuno berupa sertifikat saham dan warrant milik N.V. Suikerfabrieken Tjeweng-Lestari teridentifikasi sebagai artefak penting industri gula kolonial di Jawa Timur. Dokumen tersebut mengungkap perjalanan dua pabrik gula legendaris, PG Ceweng di Jombang dan PG Lestari di Nganjuk, yang berawal dari Surabaya.
Dokumen pertama adalah Bewijs van Aandeel atau bukti saham atas tunjuk senilai satu duizend gulden dengan modal perusahaan tercatat f 4.000.000 Ind. Ct terbagi dalam 4.000 lembar saham. Pada dokumen tertera pendirian awal perusahaan dilakukan pada 13 Februari 1884 di hadapan Notaris A.J. Snouck Hurgronje di Soerabaja, dengan perubahan anggaran dasar terakhir pada 14 Juli 1920 di Amsterdam dan disahkan oleh Gubernur Jenderal pada 17 Desember 1920. Cetakan dengan bingkai ornamen hijau tersebut diproduksi oleh Druk De Bussy, Amsterdam, dan diberi perforasi serta stempel merah SPECIMEN, menandakan bahwa lembaran ini merupakan contoh arsip bursa, bukan saham yang diedarkan.
Dua dokumen lainnya adalah WARRANT - Optiebewijs Nomor 2573 dan 10997 yang diterbitkan di Amsterdam pada 31 Maart 1951. Warrant tersebut memberikan hak kepada pemegangnya untuk menukarkan winstbewijs ditambah pembayaran f 500 gulden untuk memperoleh satu saham biasa. Sesuai klausul yang tercetak, warrant dinyatakan tidak berlaku sejak 20 Juni 1960.
Secara historis, perusahaan ini lahir pada masa keemasan gula setelah berlakunya Agrarische Wet 1870. Pabrik pertama, Tjeweng yang kini dikenal sebagai PG Ceweng di Diwek, Jombang, dibangun pada periode yang sama dengan pabrik-pabrik lain di wilayah Karesidenan Surabaya. Seperti catatan sejarah yang menyebut Pabrik Gula Tjoekir yang dibangun tahun 1884, Tjeweng menjadi bagian dari ekspansi perkebunan tebu di dataran subur aliran Sungai Brantas.
Keunikan perusahaan ini terletak pada model bisnisnya yang sangat menguntungkan. Arsip ekonomi tahun 1920 mencatat modal perusahaan saat itu masih f 1.200.000 dan menyebutkan bahwa perusahaan eerst de fabriek Tjeweng geexploiteerd en daarna uit de gereserveerde winsten een tweede fabriek, Lestari kunnen bouwen. Artinya, pabrik kedua dibangun sepenuhnya dari laba ditahan tanpa harus meningkatkan modal secara signifikan.
Pabrik kedua tersebut adalah PG Lestari. Wilayah Patianrowo terkenal dengan pabrik gula bernama PG Lestari di Desa Lestari yang berdiri pada zaman Belanda pada tahun 1909. Pendirian pabrik ini dipelopori oleh "CV. CULTUUR MAATCHAPPY (C.V.C.M) Panji Tanjungsari" yang berkedudukan di Amsterdam, sedangkan Pengurusan serta tata usaha dari Pabrik Gula Lestari diserahkan kepada Trademen On Van Kerchen Indonesia yang pada waktu itu berada di Surabaya.
Secara geografis, PG Lestari berlokasi di desa Ngrombot, Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, sekitar 20 kilometer dari Jombang. Hal ini menjelaskan perubahan nama perusahaan menjadi Tjeweng-Lestari yang menggabungkan dua lokasi operasional.
Perpindahan domisili perusahaan dari GEVESTIGD TE SOERABAIA menjadi GEVESTIGD TE AMSTERDAM pada warrant tahun 1951 menandai sentralisasi modal gula ke Belanda pasca-Perang Dunia II. Era kolonial tersebut berakhir pada 10 Desember 1957, ketika pemerintah Indonesia melakukan nasionalisasi seluruh perusahaan Belanda.
Kini, dalam daftar pabrik gula nasional, Pabrik Gula Ceweng | Nonaktif, sementara PG Lestari masih tercatat sebagai bagian dari PTPN X di Kertosono.
Secara hukum, ketiga dokumen tersebut sudah tidak memiliki nilai finansial sejak nasionalisasi dan kedaluwarsa warrant pada 1960. Dokumen ini merupakan bukti autentik bagaimana modal dari Surabaya membiayai kejayaan industri gula Jawa Timur selama lebih dari tujuh dekade.
(Moseum Digital Leiden)
Untuk melihat foto lainnya silahkan klik tagar di bawah ini: