Koleksi Antik Group

Directions Website Contact the museum

Koleksi Antik Group (Koleksi Antik Group)
Koleksi Antik Group adalah komunitas pelestari barang seni kerajinan, antik

- Dhapur: Tilam Upih- Pamor: Udan Mas Tiban- Tangguh: Tuban Pajajaran- Warangka: Gayam Solo, Cendana- Deder: Yudawinatan...
03/10/2026

- Dhapur: Tilam Upih
- Pamor: Udan Mas Tiban
- Tangguh: Tuban Pajajaran
- Warangka: Gayam Solo, Cendana
- Deder: Yudawinatan, Kayu Sono
- Pendok: Bunton, Bahan Kuningan
- Mendak: Widhengan, Kuningan

Tilam Upih dimaknai sebagai simbol ketenteraman, kenyamanan, dan kehidupan yang harmonis. Dalam kehidupan keluarga, makna ini berkembang menjadi doa agar rumah tangga memiliki tempat untuk berteduh, saling menguatkan, dan menjalani kehidupan dengan kecukupan.

Karena itu, Tilam Upih sering dikaitkan dengan pusaka keluarga dan kesinambungan generasi. Dhapur ini seolah mengingatkan bahwa kehidupan yang baik tidak selalu dibangun dari kemewahan, tetapi dari kasih sayang, tanggung jawab, kecukupan, dan kemampuan menjaga ketenteraman bersama.

PAMOR UDAN MAS TIBAN
Nama udan mas secara harfiah berarti hujan emas. Dari sinilah pamor ini kemudian banyak dimaknai sebagai simbol datangnya rezeki dan keberlimpahan.

Sebagai pamor tiban, kemunculan motifnya dipercaya tidak dirancang secara khusus oleh empu untuk membentuk pola tertentu. Justru pola yang muncul secara alami tersebut kemudian diberi nama dan dimaknai berdasarkan bentuk yang terlihat.

Dalam tradisi perkerisan, Udan Mas menjadi doa dan harapan agar pemiliknya memperoleh kelancaran rezeki, kecukupan, dan keberlimpahan kehidupan. Namun rezeki tentu tidak hanya berbentuk uang atau harta. Kesehatan, kesempatan, ilmu, hubungan yang baik, dan kemampuan memberi manfaat juga merupakan bentuk kekayaan dalam kehidupan.

- Dhapur : Banyak Angrem- Pamor : Ngulit Semangka- Tangguh : Pajajaran- Warangka : Tutup Tombak, Cendana Jawa- Deder : L...
02/10/2026

- Dhapur : Banyak Angrem
- Pamor : Ngulit Semangka
- Tangguh : Pajajaran
- Warangka : Tutup Tombak, Cendana Jawa
- Deder : Landeyan Panukup, Cendana Jawa
- Pendok : -
- Mendak : Methuk Iras

Banyak Angrem dapat dibaca sebagai simbol menjaga dan merawat kehidupan. Mengasuh bukan hanya soal memberi makan, tetapi juga menjaga sesuatu yang berharga agar dapat tumbuh dengan baik.

Di dalam kehidupan manusia, makna ini dapat diterapkan pada keluarga, amanah, pekerjaan, ilmu, maupun nilai-nilai yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Apa yang kita miliki tidak cukup hanya dijaga untuk diri sendiri, tetapi juga perlu dirawat agar tetap hidup dan dapat diteruskan.

Angsa juga dikenal memiliki sifat teritorial dan peka terhadap kehadiran sesuatu yang dianggap mengancam. Ketika merasa wilayah atau anak-anaknya berada dalam bahaya, ia akan memberikan tanda dan melakukan perlawanan.

Karakter inilah yang dapat menjadi piwulang dari Banyak Angrem: lembut dalam merawat, tetapi tegas ketika menjaga sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya.

Dalam kehidupan, seseorang memang tidak harus selalu keras untuk menjadi kuat. Ada saatnya kita bersikap lembut, tetapi ada p**a saatnya harus memiliki batas dan keberanian untuk mengatakan tidak terhadap sesuatu yang dapat merusak kehidupan yang sedang kita jaga.

- Dhapur : Putut Sajen- Pamor : Sanak- Tangguh : Pajajaran- Warangka : Sandang Walikat, Kayu Jati- Deder/Handle : Stilas...
30/09/2026

- Dhapur : Putut Sajen
- Pamor : Sanak
- Tangguh : Pajajaran
- Warangka : Sandang Walikat, Kayu Jati
- Deder/Handle : Stilasi Puthut - Iras

Puthut Sajen merupakan salah satu bentuk tosan aji yang sederhana, tetapi memiliki simbolisme yang cukup dalam. Dalam tradisi Jawa, sosok atau ornamen puthut sering dikaitkan dengan figur pertapa yang menjalani laku prihatin, mengendalikan keinginan, dan mendekatkan diri kepada nilai-nilai kehidupan yang lebih tinggi.

Namun bentuk puthut juga sering diasosiasikan dengan janin atau bayi yang masih berada dalam kandungan. Dua pemaknaan ini memberikan ruang filosofi yang menarik. Pertapa dan janin sama-sama menggambarkan keadaan ketika manusia kembali pada kesederhanaan dirinya. Yang satu sedang menjalani laku untuk menata batin, sementara yang lain sedang berada pada tahap awal kehidupan, belum memiliki apa-apa selain kesempatan untuk tumbuh.

PUTHUT SEBAGAI SIMBOL LAKU
Dalam pengertian sebagai pertapa, puthut menggambarkan manusia yang memilih untuk menepi sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan, mengendalikan keinginan, dan belajar mengenali dirinya sendiri.

Laku prihatin bukan berarti menjauhi kehidupan, melainkan belajar menempatkan keinginan agar tidak menguasai diri. Seorang pertapa dalam gambaran tradisional Jawa menjadi simbol ketekunan, kesabaran, pengendalian diri, dan pencarian makna.

Dari sini Puthut Sajen dapat menjadi pameling bahwa semakin banyak yang kita miliki, semakin penting p**a kemampuan untuk mengendalikan diri. Manusia tidak hanya perlu mengejar apa yang diinginkan, tetapi juga perlu belajar memahami apa yang benar-benar dibutuhkan.

- Dhapur : Tilam Upih- Pamor : Tejo Kinurung- Tangguh : Mataram Sultan Agung- Warangka : Ladrang Capu Solo, Timoho- Dede...
28/09/2026

- Dhapur : Tilam Upih
- Pamor : Tejo Kinurung
- Tangguh : Mataram Sultan Agung
- Warangka : Ladrang Capu Solo, Timoho
- Deder : Yudawinatan, Kayu Timoho
- Mendak : Bahan Tembaga

Tilam Upih dimaknai sebagai simbol tempat beristirahat, ketenteraman, kenyamanan, dan kehidupan yang berkecukupan. Dalam kehidupan keluarga, makna ini berkembang menjadi harapan agar rumah tangga senantiasa tenteram, harmonis, dan mampu menjadi tempat p**ang yang baik bagi seluruh anggota keluarga.

Karena itu, Tilam Upih sering dikaitkan dengan pusaka keluarga dan kesinambungan generasi. Ia membawa pesan sederhana bahwa kehidupan yang baik tidak hanya dibangun dengan harta, tetapi juga dengan kasih sayang, tanggung jawab, kecukupan, dan kemampuan menjaga keharmonisan.

Pamor Tejo Kinurung memiliki nama yang berasal dari kata tejo dan kinurung. Tejo berarti cahaya atau sinar, sedangkan kinurung berarti dikelilingi atau berada dalam kurungan.

Dari makna tersebut, Tejo Kinurung dapat dimaknai sebagai cahaya yang tetap menyala meskipun berada dalam suatu batas atau naungan. Secara simbolik, ia menggambarkan cahaya kebaikan, ilmu, dan harapan yang tetap dapat memancar dalam berbagai keadaan.

Makna ini juga dapat dibaca sebagai pengingat bahwa seseorang tidak selalu berada dalam keadaan yang bebas dari batasan. Ada tanggung jawab, aturan, keadaan, dan persoalan yang harus dijalani. Namun keadaan tersebut tidak semestinya memadamkan teja atau cahaya dalam diri.

Karena itu, Tejo Kinurung dapat menjadi doa agar pemiliknya senantiasa memiliki cahaya kehidupan, kejernihan pikiran, kewibawaan, dan kemampuan menjaga kebaikan, sekalipun berada dalam berbagai keadaan dan keterbatasan.

- Dhapur: Jalak Nyucup Madu- Pamor: Wengkon Isen- Tangguh: HB Sepuh- Warangka: Branggah Jogja, Timoho- Deder: Nunggak Se...
27/09/2026

- Dhapur: Jalak Nyucup Madu
- Pamor: Wengkon Isen
- Tangguh: HB Sepuh
- Warangka: Branggah Jogja, Timoho
- Deder: Nunggak Semi, Kemuning Bang
- Pendok: Bunton, Bahan Kuningan
- Mendak: Bejen, Bahan Kuningan

Dhapur Jalak Nyucup Madu menggambarkan seekor burung jalak yang sedang mengisap madu. Gambaran tersebut dapat dimaknai sebagai perlambang manusia yang tekun mencari sesuatu yang baik dan bermanfaat dalam kehidupannya. Madu menjadi simbol sesuatu yang manis dan bernilai, sementara proses mencarinya mengingatkan bahwa hasil yang baik membutuhkan ketekunan dan kesungguhan.

Pamor Wengkon Isen memiliki pola dasar menyerupai wengkon atau bingkai yang kemudian diisi dengan motif pamor di dalamnya. Secara filosofi, wengkon dapat dimaknai sebagai batas dan perlindungan, sedangkan isen menggambarkan sesuatu yang mengisi ruang kehidupan. Filosofinya mengajarkan pentingnya memiliki batas, tatanan, sekaligus mengisi kehidupan dengan hal-hal yang memiliki nilai.

Tangguh Hamengkubuwana Awal merujuk pada masa awal berdirinya Kesultanan Yogyakarta di bawah Sultan Hamengku Buwono I, setelah Perjanjian Giyanti tahun 1755. Periode ini merupakan masa penting dalam pembentukan tradisi dan karakter kebudayaan keraton Yogyakarta, termasuk dalam perkembangan seni kriya dan perkerisan. Keris pada masa ini tidak hanya menjadi perlengkapan busana, tetapi juga bagian dari identitas, tata nilai, dan kehidupan budaya keraton.

- Jenis : Keris Luk 7- Dhapur : Carubuk- Pamor : Singkir- Tangguh : Blambangan- Warangka : Ladrang Solo, Kayu Kantil- De...
24/09/2026

- Jenis : Keris Luk 7
- Dhapur : Carubuk
- Pamor : Singkir
- Tangguh : Blambangan
- Warangka : Ladrang Solo, Kayu Kantil
- Deder : Yudawinatan, Kemuning Bang
- Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
- Mendak : Parijatha, Bahan Kuningan

Secara filosofis, Carubuk dimaknai seperti bumi. Bumi menerima apa saja yang jatuh kepadanya, baik benih yang baik maupun yang kurang baik. Dari sini lahir piwulang tentang manusia yang harus momot, bakuh, dan pengkuh, mampu menerima warna kehidupan tanpa kehilangan pegangan pada kebaikan.

Penerimaan bukan berarti menyerah begitu saja. Manusia tetap perlu berusaha, berdoa, dan bertawakal, sementara hasil akhirnya diterima dengan rasa syukur. Karena itu, Carubuk dapat menjadi simbol tentang kelapangan hati, keikhlasan, keteguhan, dan kemampuan menerima hasil perjalanan hidup tanpa kehilangan semangat untuk terus berusaha.

PAMOR SINGKIR
Secara teknis dan dalam pembacaan pakem pamor, motif seperti ini sebenarnya lebih tepat dikenal sebagai pamor Adeg. Jika garisnya sangat halus disebut Adeg Mrambut, sedangkan garis yang lebih tebal dikenal sebagai Adeg Sapu.

Secara simbolik, kata singkir berarti menyingkir atau menjauh. Dari makna inilah pamor Singkir kemudian dimaknai sebagai doa agar pemiliknya mampu menyingkirkan berbagai halangan dan marabahaya, atau dalam ungkapan Jawa disebut kalis ing sambikala.

Makna tentang keselamatan dan terhindar dari halangan tersebut merupakan simbolisme budaya dan doa atau harapan pemilik, bukan sifat objektif yang secara ilmiah melekat pada pamor.

- Jenis : Keris Patrem- Dhapur : Brojol- Pamor : Junjung Derajat- Tangguh : Tuban Sepuh- Warangka : Sandang Walikat, Tim...
23/09/2026

- Jenis : Keris Patrem
- Dhapur : Brojol
- Pamor : Junjung Derajat
- Tangguh : Tuban Sepuh
- Warangka : Sandang Walikat, Timoho
- Deder : Yudawinatan, Timoho
- Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
- Mendak : Parijatha, Bahan Kuningan

Ada pemaknaan yang menghubungkan istilah Patrem dengan ungkapan “Panggane Ingkang Damel Tentrem”, yang kurang lebih dimaknai sebagai sesuatu yang memberikan ketenteraman. Pemaknaan ini dapat dibaca sebagai simbol bahwa seseorang akan merasa lebih tenteram ketika memiliki bekal untuk menjaga dirinya.

Dengan demikian, Patrem tidak hanya menarik karena ukurannya yang kecil, tetapi juga karena memperlihatkan bagaimana keris dapat hadir sebagai ageman yang praktis, simbol perlindungan, sekaligus bagian dari kehidupan sosial masyarakat pada zamannya.

Nama brojol berkaitan dengan pengertian keluar atau lolos dari suatu keadaan. Dalam pemaknaan simbolik, hal ini kemudian dikaitkan dengan proses kelahiran, ketika seorang bayi brojol keluar dari rahim dan memulai perjalanan hidupnya.

Dari makna tersebut, Brojol dapat menjadi simbol awal kehidupan, kepasrahan, dan harapan untuk dapat keluar dari berbagai kesulitan. Mbrojol juga dapat dimaknai sebagai harapan agar segala urusan dapat menemukan jalan keluarnya.

Karena itu, Brojol dapat menjadi pameling bahwa dalam menghadapi kehidupan manusia perlu berusaha, berdoa, dan berserah diri, sambil terus mencari jalan untuk melewati setiap kesulitan yang dihadapi.

Pamor Junjung Derajat memiliki makna yang cukup jelas dari namanya. Junjung derajat berarti mengangkat atau meninggikan derajat.

Makna tersebut kemudian menjadi simbol doa agar kehidupan pemiliknya senantiasa mengalami peningkatan. Namun derajat tidak hanya berkaitan dengan jabatan, kekayaan, atau kedudukan sosial. Derajat juga dapat tercermin dari ilmu, perilaku, tanggung jawab, kehormatan, dan manfaat bagi orang lain.

- Jenis : Keris Luk 7- Dhapur : Balebang- Pamor : Pedaringan Kebak- Tangguh : Mataram Sultan Agung- Warangka : Gayaman S...
20/09/2026

- Jenis : Keris Luk 7
- Dhapur : Balebang
- Pamor : Pedaringan Kebak
- Tangguh : Mataram Sultan Agung
- Warangka : Gayaman Solo, Trembalo Iras
- Deder : Yudawinatan, Kemuning Bang
- Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
- Mendak : Widengan, Bahan Kuningan

Dhapur Balebang Luk 7 dengan kinatah emas Panji Wilis dan pamor Pedaringan Kebak melambangkan doa dan harapan akan kemakmuran hidup, kewibawaan, serta keseimbangan batin yang tinggi.

Angka 7 (pitu) dalam budaya Jawa sering dihubungkan dengan kata pitulung (pertolongan) dari Tuhan Yang Maha Esa.

Dhapur Balebang mencerminkan keteguhan pendirian, kebijaksanaan dalam memimpin diri sendiri maupun orang lain, serta jalan hidup yang senantiasa dinaungi perlindungan.

Panji Wilis (daun atau tetumbuhan hijau yang disimbolkan dengan emas) melambangkan kesuburan, ketenangan jiwa, dan perjalanan spiritual untuk menemukan jati diri.

Tinatah Emas Panji Willis ini juga berfungsi untuk meredam watak keris yang terlalu panas atau keras, serta menandakan bahwa keris tersebut dahulu merupakan bentuk penghormatan atau ageman kalangan bangsawan dan kerabat istana.

Pedaringan Kebak berarti peti atau tempat beras yang penuh.
Secara filosofis, pamor ini melambangkan rezeki yang berlimpah, kecukupan hidup, dan kemakmuran yang tidak pernah surut atau habis.

Motif pamor yang memenuhi seluruh permukaan bilah ini mencerminkan kerja keras, ketekunan, serta doa agar pemiliknya selalu diberikan berkah sandang dan pangan dalam kehidupannya.

- Jenis : Keris Luk 11- Dhapur : Sabuk Inten- Pamor : Kulit Semangka- Tangguh : Mataram Amangkurat- Warangka : Gayam Sol...
20/09/2026

- Jenis : Keris Luk 11
- Dhapur : Sabuk Inten
- Pamor : Kulit Semangka
- Tangguh : Mataram Amangkurat
- Warangka : Gayam Solo, Asem
- Deder : Yudawinatan, Kemuning Bang
- Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
- Mendak : Selut, Bahan Kuningan

Keris Kiai Sabuk Inten luk 11 melambangkan kesungguhan hidup, kerja keras, serta pencapaian kemuliaan dan kesejahteraan.

Sabuk (Ikat Pinggang): Bermakna melingkar atau mengikat di badan. Ini menyimbolkan manusia yang harus ubed (bekerja dengan sungguh-sungguh) serta berkarya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.

Inten (Intan Permata): Melambangkan hasil atau buah dari jerih payah dan perjuangan panjang yang dilalui seseorang hingga mencapai tingkat kemuliaan.

Luk Sewelas (11): Dalam tradisi Jawa dan Islam, angka 11 sering dikaitkan dengan rasa asih (kasih sayang) serta nilai-nilai spiritual yang luhur dalam menjalani kehidupan.

Dhapur Sabuk Inten dipandang sebagai simbol status, kebijaksanaan, serta perlindungan spiritual bagi pemegangnya dalam memimpin dan menata diri.

- Dapur : Sepang- Pamor : kulit semangka- Tangguh : estimasi Sriwijaya- Warangka : Sandang walikat
19/09/2026

- Dapur : Sepang
- Pamor : kulit semangka
- Tangguh : estimasi Sriwijaya
- Warangka : Sandang walikat

Address

Jalan Sawahan, Perumahan Citra Estetika No. 1A, Sawahan, Jaten
Karanganyar
57731

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Koleksi Antik Group posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Museum

Send a message to Koleksi Antik Group:

Shortcuts

Share