Koleksi Antik Group

Koleksi Antik Group (Koleksi Antik Group)
Koleksi Antik Group adalah komunitas pelestari barang seni kerajinan, antik

- Dhapur : Bethok Brojol (Sombro)- Pamor : -- Tangguh : Pajajaran- Warangka : Gayaman Jogja, Trembalo- Deder : Banaran, ...
03/09/2026

- Dhapur : Bethok Brojol (Sombro)
- Pamor : -
- Tangguh : Pajajaran
- Warangka : Gayaman Jogja, Trembalo
- Deder : Banaran, Kayu Trembalo
- Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
- Mendak : Parijata, Bahan Tembaga

Keris Sombro memiliki tempat khusus dalam dunia koleksi tosan aji. Popularitasnya membuat bilah yang diyakini memiliki keaslian dan kualitas baik banyak dicari oleh pemerhati maupun kolektor. Pada saat yang sama, bentuknya yang sederhana juga membuatnya rentan terhadap duplikasi atau pemalsuan.

Karena itu, identifikasi tidak sebaiknya hanya berdasarkan bentuk luar. Kondisi material, karakter tempa, pamor, garap, usia, serta perbandingan dengan bilah pembanding perlu diperhatikan secara menyeluruh. Penilaian mengenai keaslian membutuhkan pengalaman dan rujukan yang memadai.

Dalam tradisi kepercayaan, Keris Sombro sering dikaitkan dengan kelancaran usaha, perdagangan, dan keberhasilan mencari penghidupan. Pemaknaan tersebut merupakan bagian dari kepercayaan mengenai tuah pusaka dan tidak dapat diposisikan sebagai jaminan keberhasilan secara faktual.

Pada akhirnya, Keris Sombro dapat dibaca sebagai pengingat bahwa keris adalah simbol, sedangkan keberhasilan tetap membutuhkan usaha, kemampuan, ketekunan, dan doa. Pusaka dapat menjadi pengingat untuk menjaga semangat dan keyakinan, tetapi manusia tetap berkewajiban melakukan ikhtiar sebaik mungkin, sementara hasil akhirnya berada di luar kendali manusia.

Kisah Nyai Sombro sendiri menyimpan pesan yang menarik. Terlepas dari sejauh mana kisah tersebut dapat dibuktikan secara historis, sosoknya dalam tradisi tutur digambarkan sebagai perempuan dengan keterbatasan fisik yang tetap berkarya dan menghasilkan pusaka yang kemudian dikenal luas hingga sekarang.

Dari sana terdapat pelajaran sederhana: keterbatasan tidak selalu menjadi alasan untuk berhenti berkarya. Nilai seseorang tidak hanya ditentukan oleh keadaan fisiknya, tetapi juga oleh kemauan untuk terus mencipta, bekerja, dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat bagi generasi berikutnya.

- Jenis : Patrem- Dhapur : Brojol- Pamor : Tambal- Tangguh : Pajajaran- Warangka : Gayaman Jogja, Timoho- Deder : Banara...
01/09/2026

- Jenis : Patrem
- Dhapur : Brojol
- Pamor : Tambal
- Tangguh : Pajajaran
- Warangka : Gayaman Jogja, Timoho
- Deder : Banaran, Kemuning Werut
- Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
- Mendak : Tumpalan, Kuningan Kemalo Hijau

Secara filosofis, istilah patrem sering dikaitkan dengan kata patrêm, yang dimaknai sebagai sesuatu yang memberikan ketenteraman. Dari pengertian tersebut, patrem dapat dipahami sebagai perlambang ketenteraman hati—sebuah pengingat agar manusia mampu menghadapi kekhawatiran, ancaman, dan ketidakpastian dengan hati yang lebih tenang.

Apabila patrem merupakan pusaka warisan orang tua atau leluhur, maknanya dapat berkembang menjadi simbol hubungan antargenerasi. Nilainya tidak semata-mata terletak pada keyakinan terhadap daya gaib, tetapi juga pada sejarah, pesan, keteladanan, dan ingatan keluarga yang melekat pada pusaka tersebut.

PAMOR TAMBAL
Nama "tambal" memberikan ruang tafsir filosofis yang kuat. Menambal berarti memperbaiki bagian yang kurang, menutup celah, atau melengkapi sesuatu yang belum sempurna. Karena itu, Pamor Tambal sering dimaknai sebagai doa dan harapan agar kekurangan serta kelemahan dalam kehidupan dapat diperbaiki.

Makna tersebut dapat dibaca secara lebih luas sebagai perlambang ikhtiar untuk menjadi lebih baik. Manusia menyadari bahwa dirinya tidak sempurna. Ada kekurangan yang harus diperbaiki, ada kelemahan yang perlu diperkuat, dan ada kesalahan yang harus diperbaiki melalui pengalaman serta pembelajaran.

Dalam sebagian tradisi perkerisan, Pamor Tambal juga dipercaya memiliki kecocokan tertentu dengan pemiliknya dan sering dikaitkan dengan kemajuan kehidupan, kedudukan, serta tercapainya derajat yang lebih baik. Pemaknaan tersebut sebaiknya ditempatkan sebagai bagian dari kepercayaan dan tafsir budaya, bukan sebagai jaminan atas hasil tertentu.

Secara simbolik, Pamor Tambal dapat menjadi pengingat bahwa setiap kekurangan bukan alasan untuk berhenti berkembang. Apa yang kurang dapat ditambal dengan ikhtiar, apa yang lemah dapat diperkuat dengan pembelajaran, dan apa yang belum sempurna dapat terus diperbaiki sepanjang perjalanan hidup.

- Dhapur: Tilam Upih- Pamor: Dwi Warno (Wengkon Isen + Putri Kinurung)- Tangguh: Tuban Sepuh- Warangka: Ladrang Solo, Ge...
30/08/2026

- Dhapur: Tilam Upih
- Pamor: Dwi Warno (Wengkon Isen + Putri Kinurung)
- Tangguh: Tuban Sepuh
- Warangka: Ladrang Solo, Gembol Jati
- Deder: Canteng, Kemuning Bang
- Pendok: Bunton Slorok, Bahan Tembaga
- Mendak: Kendhit, Bahan Kuningan

DHAPUR TILAM UPIH
Nama Tilam Upih berasal dari kata tilam, yang berarti alas atau tempat beristirahat, dan upih, yaitu pelepah pinang yang dahulu dapat dimanfaatkan sebagai alas sederhana. Dari pengertian tersebut, Tilam Upih kemudian dimaknai sebagai simbol ketenteraman, kenyamanan, dan kesejahteraan hidup.

PAMOR PUTRI KINURUNG
Secara simbolik, Putri Kinurung menggambarkan kebaikan yang tidak perlu dipamerkan. Sebagaimana seorang putri yang berada dalam pingitan, sesuatu yang dijaga dan dirawat dengan baik pada waktunya akan memancarkan keindahannya sendiri.

Dalam tradisi kepercayaan, motif Putri Kinurung juga dikaitkan dengan harapan akan pengayoman, perlindungan dari sambekala, pengendalian diri, dan ketenteraman keluarga. Pemaknaan mengenai tuah tersebut merupakan bagian dari tradisi simbolik yang diwariskan dalam budaya perkerisan.

PAMOR WENGKON ISEN
Secara sederhana, "wengkon" dapat dimaknai sebagai bingkai, batas, atau pelindung, sedangkan "isen" berarti isi. Dari sini lahir filosofi bahwa sesuatu yang berharga tidak cukup hanya memiliki isi yang baik, tetapi juga membutuhkan batas dan perlindungan agar tetap terjaga.

Wengkon dapat dimaknai sebagai perlambang tata krama, pengendalian diri, dan batas moral, sementara isen menggambarkan ilmu, pengalaman, rezeki, keluarga, serta kebijaksanaan yang ada dalam diri seseorang.

Dalam tradisi simbolik perkerisan, Wengkon Isen juga dikaitkan dengan harapan agar berbagai anugerah kehidupan senantiasa berada dalam perlindungan, tetap utuh, dan membawa manfaat.

- Dhapur : Brojol- Pamor : Brahma Watu- Tangguh : Madura (Empu Koso)- Warangka : Daunan Madura, Kemuning- Deder/Handle :...
30/08/2026

- Dhapur : Brojol
- Pamor : Brahma Watu
- Tangguh : Madura (Empu Koso)
- Warangka : Daunan Madura, Kemuning
- Deder/Handle : Donoriko
- Pendok : Blewah Madura, Kuningan
- Mendak : Madura, Bahan Kuningan

Dhapur Brojol dapat menjadi pengingat tentang keberanian untuk menghadapi perubahan, kemampuan mencari jalan keluar, serta kemauan untuk memulai kembali ketika menghadapi kesulitan.

Kesederhanaan dhapur Brojol justru dapat dibaca sebagai sebuah pameling: kehidupan tidak selalu membutuhkan sesuatu yang rumit. Yang penting adalah kesadaran, keberanian, dan ikhtiar untuk terus bergerak keluar dari persoalan dan melanjutkan perjalanan.

Pemaknaan tersebut merupakan interpretasi budaya dan simbolik, bukan klaim bahwa keris secara otomatis memberikan kemampuan tertentu kepada pemiliknya.

PAMOR BRAHMA WATU
Nama Brahma Watu tersusun dari dua unsur. Brahma merujuk pada Brahma dalam kosmologi Hindu yang dikenal sebagai figur pencipta, sedangkan watu dalam bahasa Jawa berarti batu.

Dari kedua unsur tersebut, nama Brahma Watu dapat dibaca sebagai simbol perpaduan antara daya mencipta dan keteguhan. Brahma dapat menjadi gambaran tentang energi penciptaan dan awal kehidupan, sementara batu menggambarkan sesuatu yang kokoh dan memiliki daya tahan.

Karena itu, secara simbolik Brahma Watu dapat dimaknai sebagai kemampuan untuk menciptakan dan berkembang tanpa kehilangan keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Pemaknaan ini merupakan simbolisme budaya terhadap nama dan bentuk pamor, bukan sifat objektif yang secara ilmiah melekat pada material pamor.

- Dhapur : Tilam Upih- Pamor : Jung Isi Dunyo- Pamor Gonjo : Sumber- Tangguh : Tuban Sepuh- Warangka : Gayaman Kagok, Ti...
29/08/2026

- Dhapur : Tilam Upih
- Pamor : Jung Isi Dunyo
- Pamor Gonjo : Sumber
- Tangguh : Tuban Sepuh
- Warangka : Gayaman Kagok, Timoho
- Deder : Canteng, Kayu Kemuning
- Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
- Mendak : Widhengan, Kuningan

Tilam Upih dapat dibaca sebagai simbol tempat beristirahat, ketenteraman, dan kehidupan yang nyaman. Dalam konteks keluarga, makna tersebut berkembang menjadi harapan akan rumah tangga yang harmonis, tenteram, dan berkecukupan.

PAMOR JUNG ISI DUNYO & GONJO SUMBER
Pada keris ini terdapat Pamor Jung Isi Dunyo pada bilah dan Pamor Sumber pada bagian gonjo.

Dalam konteks simbolik, Pamor Jung Isi Dunyo dapat dibaca sebagai harapan mengenai kecukupan, kelimpahan rezeki, dan kemampuan membawa serta mengelola hasil kehidupan.

Pada bagian gonjo, terdapat pola Pamor Sumber. Pamor ini ditandai dengan bulatan-bulatan kecil menyerupai pusaran air yang tersebar pada bagian gonjo. Pada bilah ini, pola tersebut tampak pada bagian wuwungan dan kedua sisi gonjo, sehingga memberikan karakter visual yang cukup menonjol.

Dalam tradisi perkerisan, Pamor Sumber sering dikaitkan dengan makna sumber kehidupan dan kelimpahan rezeki. Pemaknaan ini memiliki kedekatan dengan simbol air sebagai sumber kehidupan. Karena itu, Pamor Sumber juga kerap ditempatkan dalam kelompok pamor yang memiliki harapan berkaitan dengan kecukupan dan kekayaan.

- Dhapur : Tilam Sari- Pamor : Udan Mas Tiban- Tangguh : Tuban Majapahit- Warangka : Branggah Jogja, Timoho- Deder : Ban...
28/08/2026

- Dhapur : Tilam Sari
- Pamor : Udan Mas Tiban
- Tangguh : Tuban Majapahit
- Warangka : Branggah Jogja, Timoho
- Deder : Banaran, Kemuning Bang
- Pendok : Bunton, Bahan Kuningan
- Mendak : Parijata, Bahan Kuningan

Tilam Sari kerap dikaitkan dengan kehidupan rumah tangga. Dalam kepercayaan tradisional, angsar dhapur ini disebut "ngademke" atau menyejukkan, yang dimaknai sebagai perlambang ketenteraman, keseimbangan, dan keharmonisan keluarga.

PAMOR UDAN MAS TIBAN
Dalam tradisi perkerisan, pamor tiban dipahami sebagai pamor yang kemunculan motifnya tidak dirancang secara khusus oleh Empu. Empu melakukan proses penempaan dengan laku dan doa, kemudian menerima bentuk pamor yang muncul sebagai bagian dari hasil tempa.

Nama Udan Mas berarti “hujan emas” dan secara simbolik dikaitkan dengan rezeki, keberkahan, dan kelimpahan. Secara filosofis, pamor ini dapat menjadi pengingat bahwa rezeki merupakan pertemuan antara ikhtiar dan anugerah: manusia tetap harus bekerja dan berusaha, sekaligus mensyukuri hasil yang diterimanya.

- Jenis : Keris Luk 9- Dhapur : Carang Soka- Pamor : Pandita Bala Pandita- Tangguh : Mataram Sultan Agung- Warangka : Ga...
26/08/2026

- Jenis : Keris Luk 9
- Dhapur : Carang Soka
- Pamor : Pandita Bala Pandita
- Tangguh : Mataram Sultan Agung
- Warangka : Gayam Jogja, Cendana Jawa
- Deder : Krajan, Kayu Kemuning
- Pendok : Bunton Slorok, Kuningan
- Mendak : Rujakwuni, Bahan Kuningan

Dhapur Carang Soka dapat menjadi pengingat untuk terus berkembang tanpa melupakan akar, meneruskan nilai yang baik, dan memberikan manfaat bagi kehidupan di sekitarnya.

Pamor Pandita Bala Pandita dapat dibaca sebagai simbol mengenai kekuatan pengetahuan dan kebijaksanaan yang terorganisasi untuk menghadapi kehidupan.

Dalam tradisi perkerisan, Tangguh Mataram Sultan Agung merupakan salah satu klasifikasi yang dikaitkan dengan masa pemerintahan Sultan Agung di Kerajaan Mataram. Keris yang dikaitkan dengan periode ini umumnya dikenal memiliki pasikutan yang tampan, luwes, dan ndemes, dengan perpaduan antara bentuk bilah dan pamor yang memberikan kesan serasi.

- Dhapur : Brojol- Pamor : Sumur Bandung- Tangguh : Pajajaran- Warangka : Wulan Tumanggal, Gembol Jati- Deder : Yudawina...
23/08/2026

- Dhapur : Brojol
- Pamor : Sumur Bandung
- Tangguh : Pajajaran
- Warangka : Wulan Tumanggal, Gembol Jati
- Deder : Yudawinatan, Kayu Kemuning
- Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
- Mendak : Tumbar Pecah, Bahan Kuningan

DHAPUR BROJOL
Nama Brojol dalam bahasa Jawa berkaitan dengan pengertian keluar atau lolos dari suatu keadaan, sebagaimana sesuatu yang brojol keluar dari tempatnya. Dalam pemaknaan simbolik, istilah ini kemudian sering dikaitkan dengan harapan agar seseorang mampu brojol atau keluar dari berbagai kesulitan, hambatan, dan persoalan kehidupan.

Brojol juga dapat dibaca melalui simbol kelahiran—keluarnya manusia dari rahim menuju dunia. Karena itu, dhapur ini dapat dimaknai sebagai pengingat tentang awal yang baru, keberanian menghadapi kehidupan, serta kesempatan untuk memulai kembali.

PAMOR SUMUR BANDUNG
Dalam tradisi perkerisan, Sumur Bandung sering dikaitkan dengan lingkungan keprajuritan atau kemiliteran. Penafsiran tersebut berkaitan dengan karakter simboliknya yang dianggap sesuai dengan semangat keteguhan, kesiapan, dan keberanian dalam menghadapi tugas.

Namun, penting untuk membedakan antara tradisi penafsiran tuah pamor dengan fakta historis. Penyebutan suatu pamor sebagai pamor yang banyak digunakan oleh kalangan prajurit tidak dengan sendirinya membuktikan bahwa setiap keris berpamor Sumur Bandung pasti berasal dari lingkungan militer. Aspek tersebut tetap perlu dilihat bersama-sama dengan tangguh, garap, bentuk bilah, bahan, dan konteks sejarah pusaka.

Secara simbolik, pola seperti sumur juga menarik untuk direnungkan sebagai gambaran tentang kedalaman. Sesuatu yang tampak sederhana di permukaan belum tentu sederhana di dalam. Sebuah pengingat bahwa manusia pun demikian: semakin dalam seseorang memahami dirinya, semakin ia mengenal batas, kekuatan, sekaligus kekurangannya sendiri.

- Dhapur : Tilam Upih- Pamor : Wos Wutah- Tangguh : Mataram Sultan Agung- Warangka : Ladrang Solo, Trembalo Iras- Deder ...
21/08/2026

- Dhapur : Tilam Upih
- Pamor : Wos Wutah
- Tangguh : Mataram Sultan Agung
- Warangka : Ladrang Solo, Trembalo Iras
- Deder : Yudawinatan, Kemuning Bang
- Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
- Mendak : Tumpalan, Bahan Tembaga

Nama Tilam Upih berasal dari dua kata. Tilam berkaitan dengan alas atau tempat berbaring, sedangkan upih adalah pelepah pinang yang dahulu dapat dimanfaatkan sebagai alas. Dari sini, nama Tilam Upih membawa gambaran tentang tempat bersandar, beristirahat, dan memperoleh ketenteraman.

Menariknya, simbol yang digunakan justru berasal dari sesuatu yang sederhana dan dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ia mengingatkan bahwa ketenteraman tidak selalu membutuhkan kemewahan. Terkadang, yang paling dibutuhkan manusia hanyalah tempat untuk pulang, hati yang tenang, dan kehidupan yang cukup.

Karena itu, Tilam Upih dapat dimaknai sebagai sebuah pameling agar manusia tidak kehilangan kemampuan untuk berhenti sejenak, menata diri, dan mensyukuri apa yang telah dimiliki.

- Dhapur : Dholog ( Luk 5 )- Pamor : Pedaringan Kebak + Wahyu Tumurun- Tangguh : Mataram Sultan Agung- Warangka : Ladran...
21/08/2026

- Dhapur : Dholog ( Luk 5 )
- Pamor : Pedaringan Kebak + Wahyu Tumurun
- Tangguh : Mataram Sultan Agung
- Warangka : Ladrang Solo, Trembalo
- Deder : Yudawinatan, Kemuning Bang
- Pendok : Bleweh, Bahan Kuningan
- Mendak : Kendhit, Bahan Kuningan

DHAPUR DHOLOG
Nama Dholog menarik untuk dibaca dari sisi filosofis. Dalam pemahaman budaya Jawa, kata dholog dapat dikaitkan dengan sesuatu yang kokoh, mantap, dan tidak mudah bergeser dari tempatnya. Pemaknaan ini dapat dijadikan simbol tentang sikap batin seseorang dalam menghadapi kehidupan.

Dengan demikian, Dholog dapat ditempatkan sebagai simbol keteguhan dalam menjalani kehidupan. Bukan berarti manusia harus keras dan tidak mau berubah, melainkan memiliki prinsip yang cukup kuat untuk tidak mudah kehilangan arah ketika menghadapi perubahan keadaan.

Justru orang yang kokoh bukanlah orang yang tidak pernah berubah, tetapi orang yang mampu beradaptasi tanpa kehilangan pijakan.

PAMOR WAHYU TUMURUN KEBAK
Secara simbolik, Wahyu Tumurun sering dimaknai sebagai turunnya anugerah, petunjuk, atau karunia dari Yang Maha Kuasa. Sementara kesan kebak, atau penuh, memberikan gambaran tentang sesuatu yang tercukupi dan tidak kekurangan.

Karena itu, pamor ini dapat dibaca sebagai representasi harapan akan datangnya anugerah, kecukupan rezeki, serta keberkahan yang memenuhi kehidupan.

Namun seperti halnya pemaknaan pamor lainnya, nilai tersebut lebih tepat dipahami sebagai doa dan simbol budaya, bukan sebagai jaminan bahwa sebuah motif pamor akan mendatangkan rezeki secara otomatis.

Address

Jalan Sawahan, Perumahan Citra Estetika No. 1A, Sawahan, Jaten
Karanganyar
57731

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Koleksi Antik Group posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Museum

Send a message to Koleksi Antik Group:

Shortcuts

Share