01/09/2026
๐โจ PRANACITRA: SEBUAH CINTA JAWA, ANTARA ASMARA, KEKUASAAN, DAN SEBUAH KEJANGGALAN SEJARAH ๐ฅโค๏ธ
Tahukah Anda bahwa pada tahun 1930 pernah terbit sebuah buku berbahasa Belanda yang mengangkat salah satu kisah cinta terkenal dalam sastra Jawa? ๐
Buku itu berjudul:
Prรฅnรฅtjitrรฅ: een Javaansche liefde, uit het Javaansch vertaald
atau โPranacitra: Sebuah Cinta Jawa, diterjemahkan dari bahasa Jawa.โ
Karya tersebut diterjemahkan oleh C.C. Berg, seorang ahli bahasa dan sastra Jawa, dengan bantuan M. Prawiroatmodjo. Buku ini diterbitkan oleh C.A. Mees di Santpoort dan terdiri dari sekitar 360 halaman, lengkap dengan ilustrasi dan foto.
Bahkan, kisah dan penerbitan buku tersebut kemudian mendapat perhatian hingga direviu dalam Journal of the Royal Asiatic Society pada tahun 1932. ๐โจ
๐๏ธ Lalu, siapa sebenarnya Pranacitra?
Pranacitraโatau dalam penulisan Jawa Prรฅnรฅtjitrรฅ/Pranatjitraโmerupakan tokoh yang sangat erat hubungannya dengan kisah tragis Rara Mendut. Dalam versi cerita yang terkenal, ia adalah seorang pemuda, putra seorang saudagar, yang jatuh cinta kepada perempuan cantik bernama Rara Mendut. โค๏ธ
Namun cinta mereka tidak berjalan mudah.
Rara Mendut berada di bawah kekuasaan Tumenggung Wiraguna. Mendut menolak menjadi perempuan pilihan sang Tumenggung. Sebagai akibatnya, ia harus menghadapi tekanan dan tuntutan yang berat.
Dalam salah satu versi cerita yang paling dikenal, Rara Mendut bahkan berjualan rokok ๐ฌ untuk memenuhi tuntutan yang dibebankan kepadanya.
Di tengah keadaan itulah, cinta antara Rara Mendut dan Pranacitra tumbuh. ๐น
Namun ketika hubungan mereka diketahui oleh Wiraguna, tragedi pun terjadi. ๐
Pranacitra akhirnya dibunuh.
Rara Mendut, yang tidak ingin hidup tanpa kekasihnya, memilih untuk mengikuti Pranacitra dalam kematian. Dalam salah satu teks Indonesia yang pernah diterbitkan pemerintah, keduanya dikisahkan dimakamkan bersama dalam satu liang di Desa Ceporan. ๐ฅ
โค๏ธโ๐ฅ Karena itulah, Pranacitra bukan sekadar tokoh dalam cerita cinta Jawa.
Ia menjadi lambang cinta yang dipilih dengan hati.
Sementara Rara Mendut menjadi simbol keberanian seorang perempuan yang menolak tunduk kepada kekuasaan dan pemaksaan.
Dan Wiraguna...
Ia hadir sebagai gambaran bahwa kekuasaan tidak selalu mampu memenangkan hati seseorang.
โ๏ธโค๏ธ
Namun, ada satu hal menarik yang mengundang pertanyaan...
๐ Jika teks Pranacitra ini dikaitkan dengan tradisi sastra Jawa dan bahkan dikatalogkan sebagai karya yang berhubungan dengan R.Ng. Yasadipura II, lalu apakah ada sesuatu yang janggal dalam penggunaan โgagrag Ngayogyakartaโ pada sampul buku tersebut? ๐ค
Apakah itu sekadar pilihan artistik?
Ataukah ada persoalan mengenai gaya penulisan, tradisi aksara, lingkungan budaya, dan asal-usul teks yang perlu ditelusuri lebih jauh?
๐๐
Sejarah sastra Jawa memang sering menyimpan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban.
Dan kadang-kadang...
sebuah sampul buku pun dapat membuka perdebatan tentang sejarah, budaya, dan identitas sebuah karya. โจ๐
๐ฌ Menurut Anda, apakah penggunaan gagrag Ngayogyakarta pada sampul tersebut memang janggal? Atau justru merupakan bagian dari perkembangan dan interpretasi modern terhadap tradisi sastra Jawa?
๐โจ