Sejarah Jogyakarta

Sejarah Jogyakarta Sejarah Djocjakarta dan kerajaan wangsa Mataram Islam

Setelah perpindahan kerajaan ke Kartasura tercatat terjadi 3 kali perang suksesi tahta, menunjukkan dinamisnya politik i...
12/06/2026

Setelah perpindahan kerajaan ke Kartasura tercatat terjadi 3 kali perang suksesi tahta, menunjukkan dinamisnya politik internal. Khas Mataram saja?
Tidak!
Suksesi kerajaan periode Hindu sebelum Demak-Pajang-Mataram juga cukup sengit bahkan membentuk wangsa baru.
Kerajaan di Asia lainnya seperti Champa, Khmer dan Thai serta Turki Usmani (dan periode sebelumnya) tercatat dinamis dalam konflik internal tetapi selalu konsisten dalam penaklukan.
Kembali ke suksesi Tahta Jawa banyak yang belum memahaminya. Buku tebal ini harganya cukup terjangkau.

Yg tertarik boleh DM.
Harga dibawah 50K only
Cukup tebal!

Sebuah sketsa koleksi KITLV 37A130 yang digambar oleh seorang Belanda sekitar 1848. Jika melihat bentuk lengkungan/kuncu...
10/06/2026

Sebuah sketsa koleksi KITLV 37A130 yang digambar oleh seorang Belanda sekitar 1848.

Jika melihat bentuk lengkungan/kuncungan yang berjumlah 5 sudah pasti ini adalah Plengkung Nirbaya atau Plengkung Gadhing. Tapi yg agak beda adalah adanya semacam bangunan sejenis menara intai dengan dua jendela. Mungkin ini semacam tempat mesiu.

Kemungkinan inilah bentuk awal plengkung Nirbaya.
Kenapa bisa berbeda dengan kondisi sekarang, bisa jadi perubahan dikarenakan adanya gempa bumi yg pernah melanda kota Jogja pada 1867 atau kira2 20 tahun sesudah gambar ini dibuat.

Pembangunan kembali kemungkinan menjadi bentuk yang sekarang.

Tampak jagang atau parit yg tergambar dalam sketsa. Inilah salah satu gambar Benteng Baluwarti tertua setelah dibangun dan kondisi sesudah Geger Sepoy serta Perang Jawa.

Gambar sebelumnya hanya seperti pagar dari kayu gelondongan.

KITLV

Pada edisi yang lalu, banyak yang terkejut karena o***m ternyata dulu diperdagangkan secara bebas dan jumlahnya sangat b...
07/06/2026

Pada edisi yang lalu, banyak yang terkejut karena o***m ternyata dulu diperdagangkan secara bebas dan jumlahnya sangat besar di wilayah Yogyakarta.

Warung seseorang bisa menikmati o***m (Payonan Candu atau Tampat Pendjoewalan Tjandoe atau O***m Verkoopplats) ada di sebelah Danurejan, dan ini cukup mengagetkan karena letaknya justru di sebelah kantor kepatihan (Suryatmajan) artinya saat itu memang legal, bebas -sebebasnya. Asal punya duit buat beli.

Ternyata setelah dicek lebih jauh lagi, pusat gudangnya ada di sebelah utara Tugu, atau tepatnya di Wetan antara Jalan Poncowinatan dan Jalan Kranggan. Kalau sekarang masuknya di Cokrokusuman.

Dalam peta 1925, di angka 10.

Kira2 sekarang bangunan apa ya?

O***m smokers Alias pemadat canduSejak zaman perpindahan Mataram dari Kartasura ke Surakarta, o***m telah dibawa masuk k...
05/06/2026

O***m smokers
Alias pemadat candu
Sejak zaman perpindahan Mataram dari Kartasura ke Surakarta, o***m telah dibawa masuk ke Jawa.

Pada masa gubernur jenderal Gustaaf Baron van Imhoff (1745), mulai diberlakukan sistem perdagangan bebas candu.

Diperkirakan, dari 1619-1799, tiap tahun VOC memasok rata-rata 56 ton candu ke Pulau Jawa.

Tidak heran, hingga 1880, pajak perdagangan candu merupakan penghasilan paling besar bagi Pemerintah Hindia Belanda

Pada awal 1800, peredaran o***m sudah menjamur di seluruh pesisir utara Jawa, dari Batavia hingga ke Tuban, Gresik, Surabaya di Jawa Timur, bahkan Pulau Madura.

Di pedalaman Jawa, o***m menyusup sampai ke desa-desa di seantero wilayah Kerajaan Surakarta dan Yogyakarta.

Di Yogyakarta saja terdapat 372 tempat penjualan o***m

O***m regie mulai diberlakukan pada tahun 1894 di Madura dan Pulau Jawa. Pemerintah kolonial Belanda melarang penanaman o***m di seluruh Hindia Belanda, o***m diimpor dan diolah dipabrik yang didirikan di Batavia.

Sistem o***m regie mengharuskan penjual yang disebut mantri candu, mencantumkan papan nama di setiap bangunan yang menjual candu dengan nama “Kantor Penjualan” dengan bahasa Belanda, Melayu dan bahasa daerah dimana candu tersebut dijual.

Biasanya loket penjualan candu terdapat di wilayah-wilayah yang dekat dengan masyarakat seperti dekat pasar, perkebunan, dan pelabuhan. Loket candu ini dibuka pada siang hari mulai jam 12 siang hingga jam 10 malam, pada hari minggu dan hari-hari besar seperti gerebeg puasa, hari ulang tahun kerajaan Belanda.

Gambar #2
Berdasar peta 1925, terdqpat lokasi ngiras madat di rumah o***m/rumah candu (o***m verkoopplaats) pada kode peta 140, letaknya di Suryatmajan, tepat di barat pintu masuk Kepatihan. Memang saat itu o***m adalah barang legal.

Gambar #3,4 & 5
Penjualan o***m di sebuah rumah di Kampung Totgan (Totogan?) Soerakarta

Papan penjualan ditulis dalam 5 bahasa

Bahasa Belanda "O***m Verkoplets"
Tulisan Pegon "Tempat Penjualan Tjandu"
Tulisan cina : ?
Tulisan Jawa "Payonan Dodolan Candu"

Narasi
Kebudayaan.Kemdikbud

Pic :
Souvenir Album Midden-Java Djocjakarta", N.V. v/h H. Buning [c. 1925]

Pasar zaman doeloe atau pasar lama :1. Biasanya terdiri kios2 dengan atap terpisah (bukan seperti pasar modern yg jadi s...
03/06/2026

Pasar zaman doeloe atau pasar lama :

1. Biasanya terdiri kios2 dengan atap terpisah (bukan seperti pasar modern yg jadi satu) seperti gambar.

2. Pasar buka hanya pada pasaran tertentu.

3. Nama pasar biasanya merujuk pada nama hari pasar buka atau ke lokasi/kampung dimana pasar berada.

Masih ada contoh pasar begini di daerahmu?

Ini Pasar Gedhé atau Pasar Negoro sebelum 1925, sekarang namanya Bringharjo.

Pasar Gedhe adalah sebutan khas utk pasar resminya kerajaan mataram. Yg paling awal ya Pasar Gede (Sargede) di Kotagede. Sekarang nyebutnya Sarlegi. Tapi orang lokal sih masih nyebut Sargede.

Kemudian titel Pasar Gede dibawa ke pusat2 ibukota Mataram.

Di Solo, masih dipertahankan nama "Pasar Gede" walau namanya ada yaitu :Harjonegoro, jarang orang "ngeh".

Di Yogya awalnya juga nyebutnya "Pasar Gede" sayangnya setelah taun 70an sebutannya memudar menjadi lbh terkenal namanya saja yaitu "Beringharjo".
Pasar Gede tdk lagi disebut.

Jadi seperti kebalikan ya antara Solo dan Jogja

Tempatmu masih ada yg begini ?

KITLV - Straat, vermoedelijk te Jogjakarta 1920
01/06/2026

KITLV - Straat, vermoedelijk te Jogjakarta 1920

31/05/2026

JIKA BISA BALIK KE MASA LAMPAU, PENGIN KE SITUS APA DAN KENAPA ?

Pertanyaan ini Ngoyoworo (absurd) tapi biar aja, cuman buat melihat "curiousity" keingintahuan kita ttg sebuah situs sejarah yg sampai sekarang sedikit banget referensinya.

Kalau mimin pengin ke tahun 1810, pengin tahu kayak apa Plengkung Buntet sebelum dibuntetin, sama pengin lihat Istana Putra Mahkota (Kadipaten) di Sawo Jajar.

Kalau kamu pengin balik ke zaman kapan?

3 PLENGKUNG YANG SUDAH TIDAK BERWUJUD LAGI...Bagian 3 (akhir) inilah rekonstruksi ragam hias plengkung Jagasura, Jagabay...
30/05/2026

3 PLENGKUNG YANG SUDAH TIDAK BERWUJUD LAGI...

Bagian 3 (akhir) inilah rekonstruksi ragam hias plengkung Jagasura, Jagabaya dan Madyasura.
Sedikitnya ketersediaan dokumentasi dua plengkung tentu sangat menyulitkan rekonstruksi ini. Apalagi satu2nya plengkung yg "misterius" karena hampir satu abad atas dhawuh Sultan HB II dibumpetkan, dan tidak pernah dibuka lagi.
Asumsi kami adalah berdasar keterangan foto saja, dan juga menganalisa ciri khusus yg membedakan dg plengkung tersisa (Wijilan) apalagi Gading yg khas dg 5 kuncungan.
Untuk plengkung bumpet di timur, kami juga berasumsi bentuknya tentu akan sama dg penyeimbangnya di barat (Jagabaya), sebagaimana 2 yg di utara juga sejenis bentuknya (Tarunasura di Wijilan & Jagasura di utara Ngasem/Gerjen).
Tentu semua ada kemungkinan salah. Monggo diskusinya. Nuwun.

Selesai.

Anda ngeh tidak, tiap plengkung mempunyai ciri khas yg membedakan satu sama lain. Sepintas sama. Tapi tidak. Dan setelah...
29/05/2026

Anda ngeh tidak, tiap plengkung mempunyai ciri khas yg membedakan satu sama lain. Sepintas sama. Tapi tidak. Dan setelah 1893 nyaris tidak ada rehab yg mengubah penampakannya.
Jadi saat kita melihat foto lama, kita tidak menebak2 berdasar persekitaran atau kontur tanah apalagi bangunan sekitar yg sudah beda dengan sekarang, tapi ragam hiasanya tetap sama. Foto lama maupun foto terkini.
Kita lihat dalam 3 seri, dimulai dari Plengkung paling utama : Nirbaya atau Gading.

Bersambung bagian 2

Address

Yogyakarta City

Alerts

Be the first to know and let us send you an email when Sejarah Jogyakarta posts news and promotions. Your email address will not be used for any other purpose, and you can unsubscribe at any time.

Contact The Museum

Send a message to Sejarah Jogyakarta:

Share